Kamis, 28 Oktober 2010


Ketika egoisme pribadi menjadi tuhan dalam suatu kelembagaan, niscaya hanya pribadinyalah yang hanya akan berbicara, hanya bisikkan pribadi yang ia jadikan tolak ukur,,,, maka lambat laun kelembagaan itu akan mencapai puncak kehancurannya. Riuh ia mengatakan ayo kita budayakan cara-cara demokrasi humanisme intreren lembaga maupun antar lembaga, ayo…. Kita bahu membahu menjadikan fakultas kita menjadi lebih berbudaya dan jauh dari pikiran kolot dan primitif. Sayang kata-kata itu hanya terucap dibibir namun dalam hati naluri menguasai dan keegoisan bertengger menjadi satu. Ketika visi dan misi diusung bersama komitment untuk menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing telah dijalani,,,, harapan untuk melihat lembaga yang kita pimpin menjadi lembaga yang sukses dan tak tersaingi menjadi impian yang sangat indah untuk diwujudkan, namun mengapa hanya karena egoisme individual tadi seluruhnya menjadi berantakan? Mengapa visi dan misi yang telah diusung dengan susah payah dan menguras energi harus gugur hanya karena perbedaan persepsi.
            Kenyataan diatas memang sangat miris, ketika para para pemimpin pun  berkoar mengenai eratkanlah tali persaudaraanmu, wujudkanlah demokrasi humanisme dalam pergaulanmu semuanya seakan menjadi omong kosong belaka yang terbawa oleh angin dalam sekejap. Toh mereka hanya dapat berkonsep dan berteori semata, pernahkan mereka manilik keadaan mahasiswax sekarang? Pernahkah mereka melakukan dialog terbuka dengan mahasiswa tentang apa sebetulnya yang ingin mereka wujudkan dalam mengembangkan fakultasnya?. Mereka hanya memilih untuk duduk dan tidur di kursi empuk mereka dan menunggu para budak membawakan segelas anggur dan buah-buahan yang telah ranum.
            Berbicara mengenai kelembagaan mahasiswa memeng tak akan pernah habis dan ujungnya. Peristiwa 7 agustus 2008 itu mencerminkan bahwa sikap individualisme dan kekerasan masih terpatri dengan kuat dalam hati dan pikiran mereka, wahai mahasiswa yang akan melanjutkan tongkat cita-cita bangsa. Adakah yang kau dapatkan dari hasil memukul kawanmu itu? Adakah premanisme yang kau usung dapat menyelesaikan sekelumit masalah yang  kalian hadapi? Kini pertanyan itu telah terjawab, pantas saja seluruh lapisan masyarakat selalu bertanya sebenarnya adakah letak perbedaan mahasiswa dengan preman? Lalu jikalau ada perbedaannya mengapa toh mahasiswa yang nota benenya mengemban ilmu diperguruan tinggi bukanya bertambah meningkat kulitas yang dimiliki melainkan bertambah bodoh? Mahasiswa……. Adakah cara lain yang bisa kau kaukan selain premanisme?.


Note    : tulisan ini mengungkapkan kekecewaan yang mendalam pada peristiwa IMSI kelabu tgl 7-8-8, yang dengan sukses membuatku merasakan ketakutan yang sangat dahsyat.

Imoet home 8:39 a.m

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright (c) 2010 my simple life. Design by Wordpress Themes.

Themes Lovers, Download Blogger Templates And Blogger Templates.