Tiap kali berbicata tentang masa depan, selalu saja membuatku gusar. Entah apa dan kenapa sebabnya pun aku tak pernah mengetahuinya. Cita-cita tentang pekerjaan yang layak, taraf kehidupan, materi. Dan saya pun menyimpulkan semunya ternyata berlabuh pada uang dan uang. Sebenarnya saya hanya ingin sebentuk kehidupan yang sederhana, tidak memusingkan makanan mewah apa yang akan saya makan, baju bermerek apa yang akan saya beli besok, lipstick impor apa yang harus dikenakan. Semunya kelabu, hanya bayang-bayang. Kehidupan materi. Semuanya sekan bertolak pada satu kata semunya karena ‘uang’. Sempat terpikir apa sebaiknya uang dihilangkan saja, biar semunya aman hidup damai dan kesenjangan tidak terlalu meluas.
Lihat, diluar sana anak-anak berlari dan menjajakan koran disamping kaca mobil -mobil mewah, mereka yang seharusnya mengenyam yang kita kenal ‘pendidikan’ harus bertelanjang kaki dan menjajakan koran-koran , tanpa sadar mungkin diatas bus kota kita bertemu dengan anak-anak yang sebenanya sangat tampan dan cantik tapi wajah kekanak-kanakan mereka harus gosong terbakar oleh roda kehidupan kota yang semakin sadis menggilas orang-orang yang tak mampu bertahan, yah ini semua karena uang. Fenomena sekarang, orang-orang berbondong-bondong berusaha menginjakan kaki mereka di gedung legislatif biar tidak punya uang yang penting mencalonkan diri toh setelah menjadi anggota legislatif mereka juga bisa dapat uang banyak, hadiri rapat biar tidur rupiah tetap mengalir dikantong-kantong mereka. Bahkan hal yang paling lucu dan sangat menggemaskan mereka tetap saja meminta tunjangan gaji, Tuhan….. tak pernah kah terpikir atau mereka memang tidak ingin berpikir, rakyat yang katanya mereka wakili sedang melarat tak bisa makan, muntah darah Karena sakit yang berkepanjangan, boro- boro kerumah sakit saat mengurus administrasi semuanya langsung ditodong dengan satu pertanyaan “mau bayar lunas atau gmn bu”…. Bergidik…
Negeri ini memang abu-abu. Saya tidak bermaksud ingin mengomentari carut marut perpolitikan Negara tercinta ini karena memang saya tidak paham bahkan buta akan politik namun satu hal yang saya yakini, “mereka tidak mewakili aspirasi rakyat” terserah anda mau setuju atau tidak, ini tulisan saya dan saya berhak mencerca apapun yang saya anggap cacat dan pantas untuk dicerca karena memang politik kita sakit bahkan perlahan-lahan tinggal tunggu mati.
Jadi apakah suatu bentuk kesalahan jika saya bersikap “apatis” terhadap politik?
0 komentar:
Posting Komentar